By | July 7, 2020

Kesuksesan seseorang bukan karena keturunan orang kaya, karena punya modal besar atau karena nama beken orang tuanya, tapi kesuksesan bisa diraih oleh siapa saja yang mau bekerja keras, berusaha, berdoa dan gemar bersedekah. Itulah yang diyakinin oleh sesorang tukang sapu bernama paiman yang lahir dari keluarga miskin, namun kini jadi orang sukses.

Sosok tukang sapu dan tukang kebon tersebut, punya pengalaman panjang dalam sejarah hidupnya, masa kecilnya penuh dengan keprihatinan dan serba kekurangan.
Menurut keterangan paiman saat ditemui awak media di jakarta, menyatakan bahwa keberhasilan yang saya peroleh ini merupakan doa ibu/bapak, doa seorang istri dan proses dari ketabahan serta kegigihan dari perjuangan yang sangat panjang. Saya pergi merantau ke jakarta berbekal lulusan SMP, dengan mengawali sebagai tukang sapu jalanan dan tukang kebon di yayasan gembala baik jatinegara jakarta timur. Di sela-sela bekerja, saya melanjutkan sekolah menengah atas di STM Budhaya Matraman. Setelah lulus STM saya diangkat sebagai satpam di yayasan gembala baik. Kemudian saya melanjutkan kuliah di moestopo sambil jualan batik hasil produksi keluarga dan mengambil pelatihan-pelatihan keterampilan seperti ternak unggas, budidaya lele, budidaya jamur, budidaya lidah buaya, sablon, dan tata boga. Setelah lulus strata satu (S1) saya membuka usaha percetakan, pengetikan dan fotocopy bekerjasama dengan kawan, sambil melanjutkan kuliah S2. Di samping usaha tersebut, saya membeli tanah murah di wilayah bantar gebang, dan merintis membuka warung rokok hingga 50 gerobak di berbagai titik wilayah, dengan permodalan saya, dan saya menempatkan orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan, namun bisa dipercaya dengan bagi hasil dari keuntungan masing-masing 50%. Kemudian pada tahun 1997 saya mulai menjadi asisten dosen dan tahun 1999 diangkat sebagai dosen tetap di moestopo. Pada tahun 2003 saya mencoba bisnis jual beli rumah kecil, dengan modal menjual kios dan percetakan di wilayah matraman mulai dari harga rumah rp 25 jt. Di tahun 2004 saya baru bisa membeli rumah untuk tempat tinggal seharga Rp.400 jt. Kemudian saya terus menekuni sambilan bisnis jual beli sawah, rumah dan kos-kosan. Di sela-sela itu saya menjutkan sekolah S3 di unpad bandung, dan saya terjun dalam pengabdian sosial sebagai pengurus RW dan Ketua LMK. Saat menjadi ketua LMK, saya melatih para remaja dan ibu-ibu PKK budidaya keripik kulit pisang, sarlon (sayuran dalam pralon), dan budidaya aneka olahan lidah buaya. Di tahun 2010 membuka usaha nasi kucing, mie ayam, wedang jahe dan wedang uwuh yang dikelola oleh saudara dan tetangga kampung.

Singkat cerita hingga kini saya fokus mengajar, dan sambilan bisnis usaha kos-kosan dan jual beli rumah maupun tanah dengan nilai permodalan milyaran rupiah. Saat ini jumlah kos-kosan sebanyak 56 pintu/kamar, dan beberapa apartemen.

Menutup wawancaranya, paiman menambahkan bahwa orang miskin bisa sukses karena dilandasi dengan rasa bersyukur, jujur, tanggung jawab, disiplin, kerja keras, bercucuran keringat hingga berdarah-darah, ketabahan, kesabaran, pantang menyerah, berdoa dan gemar bersedekah. Jika kita mampu menjalani kiat tersebut dan mampu melewati tantangan yang kita hadapi, maka keberkahan akan hadir dalam kehidupan kita, tegas paiman.